PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

July 9, 2012
by infodiknas.net

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

Di masa hayat Rasulullah seluruh Jazirah Arab telah masuk dalam wilayah Islam. Tugas pemeliharaan, pembinaan, dan perluasan selanjutnya menjadi kewajiban kafilah dan umat Islam pada umumnya, termasuk urusan pendidikan umat. Prinsip-prinsip pokok dan idealisme Islam, diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat, hingga memberikan kesan mendalam yang hidup dalam jiwa dan pribadinya masing-masing. Meskipun masih banyak pesoalan-persoalan yang belum terselesaikan oleh Nabi terutama ketika wilayah Islam telah meluas keluar Jazirah Arab. Masalah-masalah baru banyak bermunculan. Pada masa ini tempat bertanya sudah tiada, jika mereka menjumpai masalah yang tidak ditemukan jawabannya dalam Al-Qura’an dan Sunnah, mereka berusaha berijtihad, sehingga memperoleh jawaban yang paling benar, tapi meskipun berijtihad diperbolehkan oleh Rasulullah, mereka senantiasa berhati-hati melakukannya dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pokok dan idealisme Islam. Terutama masalah pendidikan yang merupakan usaha pewarisan ajaran Islam pada generasi penerusnya, maka jika terdapat penyimpangan berarti telah menaburkan benih-benih yang tidak dikehendaki akidah Islam sendiri.

Masa Khalifah Abu Bakar (11 – 13 H)

Sebagai khalifah pertama, Abu Bakar menghadapi masalah ummat cukup serius yang harus disegera diselesaikan dengan tegas dan pasti. Kesulitan yang harus dihadapinya adalah kaum murtad, orang yang mengaku dirinya sebagai nabi beserta pendukungnya dan kaum yang tidak mau lagi membayar Zakat.

Selain menghadapi kaum pemberontak juga didorong oleh rasa kewajiban melaksanakan amanah Rasulullah maka Abu Bakar, memberangkatkan pasukannya ke Syiria yang telah dipersiap sesaat sebelum Nabi wafat. Dalam menghadapi kaum pemberontak, terlebih dahulu mereka dikirimi surat dengan maksud untuk menginsafkan dan menyadarkan kembali kepada jalan yang benar. Tetapi karena pemberontak itu tetap membangkang maka tindakan kekerasan dari Khalifah Abu Bakar tidak dapat dihindarkan lagi. Setelah kaum pemberontak berhasil ditumpas maka tugas pendidikan memegang peranan penting. Sebab penyelesayannya merupakan tugas dan wewenang pendidikan.

Keberhasilan Abu Bakar menumpas pemberontak dan pengiriman ekspedisi tentaranya ke Persia, membuka kemungkinan ekspedisi dakwah dan pendidikan Islam. Setelah kemenangan operasi militer, dilanjutkan dengan konsolidasi dan operasi teritorial terhadap penduduk yang baru dikalahkan. Operasi teritorial ini sangat menguntungkan kepentingan pengamanan wilayah dan dakwah serta pelaksanaan pendidikan Islam.

Masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar tidak lama, tapi beliau berhasil memberikan dasar-dasar kekuatan bagi perjuangan perluasan dakwah dan pendidikan Islam.

Masa Khalifah Umar bin Al-Khattab (13 – 23 H)

Ketika Abu Bakar menjabat Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan dan dukungan terhadap kebijakan yang dijalankan Abu Bakar. Sesaat sebelum Abu Bakar meninggal, beliau menunjuk Umar sebagai penggantinya setelah dimusyawarahkan dengan sahabat yang lainnya.

Meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kebutuhan disegala bidang, untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan tenaga manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian. Hal itu berarti butuh peranan pendidikan.

Pada masa khalifah Umar pendidikan Islam lebih maju dan lebih luas serta lengkap dari keadaan sebelumnya. Sebelum lahirnya agama Islam di Arab telah ada semacam sekolah yang mengajarkan menulis dan membaca. Untuk mencegah kesimpangsiuran pemahaman agama, baik yang menyangkut dasar-dasar pokok iman, ibadah dan muamalah sudah mulai dirintis. Al-Qur’an sudah dikumpulkan sejak Abu Bakar masih hidup, usaha mengumpulkan hadis makin meningkat, meskipun masih bersifat riwayat (oalis). Orang banyak berdatangan ke Madinah untuk belajar hadis langsug dari para sahabat. Khalifah Umar melarang para sahabat besar yang sangat dekat kepada Rasulullah dan yang paling berpengaruh untuk meninggalkan Madinah. Terkecuali atas izin khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Dengan demikian, penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat itu terpusatkan di Madinah. Tetapi tidak berarti, bahwa penyebaran dan pendidikan Islam ke luar daerah Madinah, kurang memiliki pengaruhnya. Melakukan dakwah dan tablig serta mengajarkan agama Islam dengan giat. Larangan Umar itu sebenarnya lebih bersifat politik.

Sejak zaman Rasulullah saw, para sahabat mempelajari isi kandungan Al-Qur’an juga menghafalkannya dengan baik. Isi Al-Qur’an itu benar-benar dihayatinya. Setelah kaum Muslim hijrah ke Madinah, mereka yang telah hafal Al-Qur’an pergi mendatangi kabilah-kabilah yang telah Islam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Langkah para sahabat ini didorong oleh rasa kewajiban untuk menyebarluaskan ilmu yang telah dimilikinya, di samping mendapat dorongan moril dari Rasulullah dengan sabda-Nya:

“ Sampaikanlah apa-apa yang telah kalian terima dari padaku, meskipun satu ayat”.

Masa Khalifah Usman Ibnu Affan (23 – 35 H.;644 – 656 M)

Kegiatan pendidikan masih berjalan seperti yang dilakukan khalifah sebelumnya. Hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh para sahabat Rasul, menghasilkan ulama tabi’in. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar para sahabat Rasul tidak diperkenankan keluar dari Madinah, sedang pada masa Khalifah Usman larangan tersebut tidak berlaku lagi. Para sahabat Rasul diperbolehkan pergi ke luar Madinah, menurut kesukaannya dan menetap di mana saja yang mereka inginkan. Sikap Usman ini dalam segi politik sebenarnya merugikan, sebab akan menimbulkan hal-hal yang merugikan seperti yang dialami, Usman sendiri. Di antara para sahabat yang tinggal diluar Madinah mendapatkan kehormatan dan dimuliakan oleh penduduk setempat. Selanjutnya menghidupkan rasa simpatik yang berlebihan akhirnya, menimbulkan fanatisme kepemimpinan. Dari segi pendidikan sikap Usman itu menguntungkan. Di daerah mereka memberikan pelajaran ilmu-ilmu yang mereka miliki dari Rasulullah. Dan ini berarti bahwa murid-murid yang berasal dari daerah itu, tidak perlu pergi ke Madinah untuk menuntut ilmu.

Perluasan dan pengembangan materi pelajaran, memperoleh pengaruh yang cukup kuat dari kondisi budaya daerah. Pengaruh ini sangat bermanfaat untuk memperkuat argumentasi aqidah agama dan untuk menghapus hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Tetapi, kerugiannya bila pengaruh budaya daerah itu dominan, justru akan memberikan jalan untuk masuknya khufarat dan cerita-cerita israiliyah ke dalam ajaran Islam, sehingga akhirnya akan dijadikan pegangan kepercayaan. Dengan demikian, aqidah islamiyah pun mulai tercemar.

Usaha konkrit yang dilakukan Usman terhadap kegiatan pendidikan Islam, dapat dikatakan tidak ada. Mungkin Usman menganggap, bahwa usaha dan kegiatan pendidikan yang sudah berjalan sebelumnya sudah memadai dan memenuhi kebutuhan umat. Jika umat merasa kurang puas terhadap pendidikan agama, pasti mereka akan memintanya. Hal ini nyata terjadi dan dilaksanakan Usman, tatkala Hudzaifah Ibnul Yaman melaporkan bahwa ia telah menyaksikan adanya perselisihan mengenai kitabnya.

Ada pun obyek pendidikan pada masa itu terdiri dari:

  1. Orang dewasa dan atau orang tua yang baru masuk Islam.
  2. Anak-anak, baik orang tuanya telah lama memeluk Islam maupun yang baru memeluk Islam.
  3. Orang dewasa dan atau orang tua yang telah lama memeluk Islam.
  4. Orang yang mengkhususkan dirinya menuntut ilmu agama secara luas dan mendalam.

Dalam fase pendidikan, lebih ditekankan pada ilmu-ilmu praktis dengan maksud agar mereka dapat mengamalkan ajaran dan tuntutan agama dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Tempat belajar masih seperti keadaan sebelumnya, mereka belajar di kuttab, di masjid atau rumah-rumah yang disediakan mereka sendiri atau rumah para gurunya. Masjid-masjid telah bertebaran di seluruh wilayah Islam, baik di kota-kota maupun di desa-desa. Masalah pendidikan pada masa Usman ini lebih banyak diserahkan kepada Umat.

Masa Khalifah Ali Ibnu Abi Thalib (35 – 40 H ; 656 – 661 M)

Setelah wafatnya Usman, untuk sementara Ali mendapatkan dukungan masyarakat dan terpilih menjadi Khalifah. Perluasan wilayah Islam ke luar Jazirah Arab mengakibatkan masuknya alam pikiran dan pandangan hidup agama Yahudi, Kristen, Zoroster dan Mazdak. Dalam perkembangan selanjutnya, alam pikiran dan pandangan hidup agama Hindu dan Budha pun turut mengambil bagian, mempengaruhi jalan pikiran umat Islam yang masih dangkal dan urusan pendidikan pun terbengalai begitu saja.

Prof. Dr. Ahmad Syalabi mengatakan,” Sebetulnya tidak sehari pun, keadaan setabil selama pemerintahan Ali. Tak ubahnya beliau sebagai seorang menambal kain sarung, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Sudah demikianlah rupanya nasib beliau. “ Karena itu dapat diduga, bahwa kegiatan pendidikan pun pada saat itu mengalami hambatan perang saudara, meskipun tidak terhenti sama sekali. Stabilitas dan keamanan sosial merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya perkembangan itu sendiri; baik ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun pengembangan intelektual dan agama. Ali sendiri pada saat itu tidak sempat memikirkan masalah pendidikan karena seluruh perhatatianya tumpah pada masalah yang lebih penting dan sangat mendesak untuk memberikan jaminan keamanan, ketertiban dan ketentraman dalam segala kegiatan kehidupan, yakni mempersatukan kembali kesatupaduan umat, tetapi Ali tidak sempat meraihnya.

About the author

informasi dunia pendidikan dan budaya

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*