PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH

July 9, 2012
by infodiknas.net

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH(41–132 H/661–750 M)

Awal kegiatan intelektual kaum Muslim pada masa Bani Umayah lebih menonjol dalam bidang hukum daripada teologi. Hukum merupakan aspek praktis dari agama dan kemasyarakatan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Para ulama sebagai pewaris nabi telah bersusah payah berusaha mengatasi permasalahan dalam kehidupan yang mempunyai kaitan dengan kehidupan hukum agama. Mereka telah berhasil mempertemukan hal-hal yang belawanan berdasarkan asa rasional. Mereka telah mencoba berijtihad, menata dan menyelaraskan kepercayaan-kepercayaan agama. Hasil dari usaha mereka itu dalam jangka waktu yang cukup pendek telah mengembangkan beberapa ilmu pengetahuan seperti filologi, tata bahasa, retorika, ilmu hukum, ilmu tafsir, teologi dan sebagainya.

Dalam periode Daulah Bani Umayah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda sistem dn kurikulumnya, yaitu pendidikan khusus dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan bagi anak-anak kafilah dan anak-anak para pembesarnya. Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali pemerintahan atau hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan kebutuhan pemerintah. Kurikulum ini diatur bukan hanya oleh guru saja, tetapi oleh orang tua murid pun turut pula menentukan. Karena padatnya rencana pelajaran bagi murid-murid maka pendidikan agama yang diberikan tidak seluas pendidikan lainnya. Oleh sebab itu kebanyakan dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberikan fatwa kepada rakyatnya. Rupanya hal ini dianggap tidak begitu penting dan diperlukan. Bagi mereka mudah saja untuk mengangakat atau memanggil ulama yang memberika fatwanya.

Adapun rencana pelajaran bagi sekolah ini adalah menulis dan membaca, Al-Qur’an dan hadis, bahasa arab dan syair-syair yang baik, sejarah bangsa arab dan peperangannya, adab kesopanan dalam perilaku pergaulan, pelajaran-pelajaran keterampilan menggunakan senjata, menunggang kuda dan kepemimpinan berperang. Tempat pendidikan berada dalam lingkungan istana. Guru-gurunya ditunjuk dan diangkat oleh khalifah dengan mendapat jaminan hidup yang lebih baik.

Pendidikan lainnya adalah pendidikan yang diberikan atau diperuntukkan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari pendidikan yang telah dilaksanakan sejak zaman Nabi masih hidup, ia merupakan sarana pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan agama. Dalam perumbuhan dan perkembangannya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kehidupan Islam secara umum yang ada kaitanya dengan budidaya dan perilaku kehidupan umat Islam sendiri. Dengan demikian maka tidaklah mengherankan bila usaha kegiatan pendidikan dan pengemabangan ilmu memperoleh kesempatan baik. Para ulama bertanggung jawab terhadap kelancaran jalannya pendidikan dan merekalah yang memikul tugas mengajar dan memberikan bimbingan serta pimpinan kepada rakyat. Mereka bekerja atas dasar kesadaran dan keinsyafan moral serta tangggung jawab agama, bukan atas dasar pengangkatan dan penunjukan pemerintah. Oleh karena itu, mereka tidak memperoleh jaminan hidup dari pemerintah. Jaminan biaya hidup mereka tanggulangi sendiri dengan mengerjakan pekerjaan lain di luar waktu tugas mengajar atau ada juga yang menerima sumbangan dari murid-murid.

Bila kita bandingkan tujuan dari kedua pendidikan tersebut akan diperoleh kesimpulan bahwa yang pertama bertujuan untuk memperoleh kekuasaan dan kekuatan politis, sedang yang kedua bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran yang ditunjang oleh keyakinan agama. Adanya perbedaan tujuan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan pandangan hidup. Pertama, menghasilkan pimpinan formal yang didukung oleh jabatan kenegaraan dengan wibawa kekuasaan. Kedua, mengahasilkan pimpinan informasi yang didukung oleh kharisma dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, diantara para khalifah Bani Khalifah pun terdapat pula orang alim, seperti Khalifah Umar Ibnu Abdul Azis.

About the author

informasi dunia pendidikan dan budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*