Mutu Pendidikan: Permasalahan Nasional

May 25, 2012
by infodiknas.net

Mutu Pendidikan: Permasalahan Nasional

Dua tulisan berikut ini, yang berasal dari negara-negara yang disebut-sebut sedang dalam masa transisi, membahas persoalan-persoalan di tingkat makro mengenai manajemen mutu pendidikan. Tulisan dari negara pertama, yang ditulis oleh Zelvys, memiliki kesamaan dengan tulisan kedua yang berasal dari Slovenia. Keduanya bertujuan untuk mengubah sistem penjaminan mutu sebuah negara yang dalam hal ini Lithuania akan tetapi mendorong proses perubahan melalui pendekatan yang berbeda. Pendekatan politis, ketakpastian, dan formal yang dilontarkan oleh Bush (1995) dianggap sesuai untuk menganalisa konteks negara tertentu. Model formal ini, yang merupakan model umum di masa Soviet, telah banyak berkurang jumlahnya karena terjadinya berbagai perubahan di tahun-tahun belakangan ini, akan tetapi beberapa elemen baru dari pendekatan ini juga mengemuka. Unsur-unsur baru itu, seperti ujian, menentukan standar bagi pendidikan dasar dan bagi profesi mengajar, membentuk dewan dan/atau komisi penjaminan mutu di tingkat pendidikan yang berbeda-beda- memiliki peran yang terbatas dan penerapannya lemah, seperti halnya kecilnya tanggung jawab yang mereka atau wakil mereka miliki. Model ketakpastian bisa ditemukan di dalam proses pendidikan dan bahkan di dalam sistem penjaminan mutu, akan tetapi model ini seringkali dikaitkan tidak dengan peristiwa-peristiwa dalam pendidikan akan tetapi dengan sektor-sektor sosial lainnya seperti administrasi publik dll. Itulah mengapa perubahan-perubahan tersebut tidak bisa dianggap sebagai perubahan organis untuk pendidikan. Selain itu sifat perubahan yang tidak bisa diramalkan juga membuat implementasinya semakin bertambah kecil. Model politis tampak dominan di Lithuania. Hal ini bisa dengan mudah dipahami oleh seorang pembaca yang peka terhadap karakterisik politik dari negara-negara di kawasan tersebut. Akan tetapi mungkin merupakan sesuatu yang mengejutkan bahwa di dalam kasus ini sekelompok pendidik tertentu memainkan peran utama di dalam dunia politik, khususnya dalam kaitannya dengan penjaminan mutu. Masyarakat akademis mungkin telah memenangkan dominasi di dalam politik makro dan menggunakan dominasi tersebut di dalam kebijakan pendidikan tinggi. Universitas sebagai lembaga pendidikan yang paling tradisional dan seringkali konservatif, juga memiliki peran dominan dalam mengungkapkan dan menjamin mutu di semua sektor pendidikan. Dibandingkan universitas, agen-agen pendidikan publik lainnya yang terlibat di dalam persoalan mutu- para pejabat dan perserikatan-perserikatan kepala  sekolah- lemah. Hasilnya adalah bahwa mutu pendidikan publik bukan merupakan persoalan penting di Lithuania saat ini. ‘Stabilitas’ ini diungkapkan dalam tulisan tersebut dengan penuh kesedihan, dengan memberikan ilustrasi tertinggalnya prestasi siswa didasarkan pada ukuran internasional.

Tulisan dari negara lainnya, oleh Balkansky, memberikan pandangan umum mengenai prestasi siswa sekolah dan menempatkannya di dalam sistem pendidikan Bulgaria yang sedang berubah. Di sini, pembaca bisa menemui bagian menarik dari buku tersebut, yakni cara yang berbeda dari penulis untuk menyampaikan pesan mereka. Meskipun sebagai editor kami tidak bermaksud membedakan antara ‘orang barat’ dan ‘orang timur’ dalam membuka tulisan mereka, menurut kami bagian khusus ini sebaiknya diperhatikan. Sebagaimana yang bisa dilihat di dalam analisa-analisa berbeda dari kawasan-kawasan lain, aspek sosial (serta kultural) pendidikan di tingkat makro memiliki peran besar dalam pendidikan. Perbedaannya adalah dalam elaborasi konteks makro. Di negara-negara yang sedang mengalami transisi politik terdapat peralihan signifikan dalam proses pendidikan. Bahasa lama yang menjadi landasan bersama untuk memahami pendidikan dibuang sedangkan bahasa yang baru belum tersedia. Itulah mengapa para professional pendidikan dari negara-negara yang disebut-sebut sebagai negara transisi bersemangat untuk membuat para pembaca dan kolega mereka akrab dengan “titik mula” baru dari apa yang harus mereka katakan. Di dalam semangat tersebut anda bisa melihat kesamaan dengan dan perbedaan dari tren Eropa umum. Dalam hal inilah mendukung penulis sejalan dengan harapan editor untuk memberi kontribusi bagi pembentukan pemahaman yang baru dan umum mengenai persoalan mutu pendidikan di dalam masyarakat pendidikan Eropa. Tulisan dari sebuah negara yang secara strategis penting ini mencerminkan apa yang telah diulas sebelumnya. Di sini konteks persoalan mutu dipusatkan di sekitar prestasi siswa.

Ada dua pendekatan untuk mendefinisikan mutu pendidikan di Bulgaria. Yang pertama, disebut pendekatan normatif, didasarkan pada “kesesuaian dengan tujuan” yang dalam pengertian khusus berarti menyesuaikan persyaratan administratif. Dalam pendekatan ini, terdapat peraturan utama yang telah membentuk sebuah sistem baru, lembaga-lembaga dan perangkat-perangkatnya. Peraturan tersebut serta tanggal pemberlakuannya, dibandingkan dengan awal mula transisi, memperjelas bahwa- selain contoh Lithuania- pendidikan publik Bulgaria dianggap oleh para politisi sebagai “salah satu nilai terbesar”. Selain itu sekolah-sekolah di bawah aturan negara bisa memiliki persyaratan mutu mereka sendiri, yang tampak di dalam pendekatan kedua dari sistem yang diperkenalkan, yang didasarkan pada filsafat liberal. Sekolah-sekolah semacam itu memerlukan manajemen mutu internal dan proses akreditasi eksternal. Pada landasan kontekstual ini pembaca bisa memiliki beberapa pemahaman mengenai strategi nasional tentang menajemen mutu dan sistem evaluasi siswa. Bagaimana populasi memprediksi mutu pendidikan dasar ditunjukkan oleh studi empiris terhadap hampir 1.200 orang. Sang penulis, sebagai anggota sebuah institut yang bertanggung jawab untuk menentukan strategi manajemen mutu seluruh negara, mengakhiri dengan memberikan deskripsi mengenai pertimbangan umum dan gagasan utama yang mendasari strategi ini.

Seperti tulisan yang dijelaskan terakhir ini, tulisan terakhir oleh Karstanje yang hanya terdiri satu bab, juga membahas manajemen mutu eksternal, yang membawa dua tema di dalam fokusnya: peralihan pengawasan mutu eksternal dari sistem sekolah dan – tidak terlepas dari fokus ini- persoalan-persoalan terkait di dalam program pelatihan manajemen sekolah. Kualifikasi guru dan kepala sekolah, yang dikontrol oleh negara, lembaga pendidikan tinggi atau dewan pakar, merupakan permasalahan umum dari tema ini. Dan meskipun proses pendidikan dari dekade terakhir atau dari beberapa tahun ini (tergantung pada kawasan dimana proses tersebut terjadi)  telah menghasilkan beberapa kontrol mutu eksternal yang sedang ditransfer ke kontrol internal, kontrol eksternal telah mulai memiliki bentuk dan perangkat baru. Beberapa dari perangkat tersebut menunjukkan elemen-elemen dari kontrol mutu eksternal tradisional. Tendensi dan implikasi proses pada otonomi lembaga sekolah Eropa dijelaskan di dalam tulisan Karstanje, diikuti oleh konsekwensinya yang berupa pengawasan mutu berbasis sekolah. Otonomi lembaga sekolah tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan mutu internal akan tetapi juga memerlukan sejenis kontrol eksternal. Karena inspeksi tradisional (yang juga dikecam di dalam tulisan Fitz-Gibbon) hampir tidak bisa menjadi perangkat sah di sekolah otonomi dari sebuah sistem desentralisasi, ditunjukkan bahwa perangkat pengawasan mutu eksternal lainnya bisa digunakan untuk tujuan ini.

Gagasan yang sama muncul berkaitan dengan penjaminan mutu program pelatihan manajemen sekolah. Institut-institut pelatihan manajemen bekerja di dalam situasi nyata dan situasi rekayasa di banyak negara Eropa dan karakteristik ini mencakup penggunaan pengendalian mutu, yang didasarkan pada kebutuhan dan kepuasan konsumen (partisipan). Akan tetapi baik konsumen yang berharap mendapat jaminan sebelumnya bahwa program tersebut berkualitas maupun pihak yang berwenang memberikan ijin terhadap program pelatihan tersebut, mengajukan perlunya keterlibatan eksternal di dalam pengendalian mutu. Penulis, yang berpengalaman di dalam kooperasi professional dengan sejumlah negara Eropa timur tengah, memberikan beberapa kemungkinan alasan kenapa  akreditasi (utamanya internasional) tampak menjadi perangkat yang paling disukai untuk pengendalian mutu eksternal. Pendekatan Karstanje memandang relevan perangkat-perangkat yang harus dimiliki oleh penjaminan mutu eksternal. Tren saat ini terhadap otonomi yang semakin besar dari lembaga pendidikan (Kells, 1992), aktifitas membuat aturan sendiri dan pengaruh pemerintah yang tidak ketat pada mereka, mengindikasikan arah tersebut. Sebagaimana ditegaskan, hal ini tidaklah berarti mengabaikan norma dan mekanisme kontrol melainkan memperhatikan kebutuhan klien, dengan menggunakan kerangka kerja yang luas untuk membuat keputusan. Di dalam ‘proses akreditasi bertingkat’ semua pelaku yang berminat memiliki hak untuk ambil bagian di dalam proses, dan institut pelatihan manajemen juga memiliki hak untuk memilih mekanisme dan perangkat penilaian mereka. Sebagaimana yang sebelumnya, tulisan terakhir oleh Gold ini mendekati persoalan yang muncul dari praktik pelatihan manajemen sekolah penulis, dalam hal ini berdasarkan pengalaman di Inggris raya. Dari sudut pandang ini, hal tersebut melibatkan tanggung jawab khusus pada penulis. Dua pertanyaan provokatif ditanyakan dan dijawab dengan cara yang mencengangkan. Karena sekolah adalah organisasi belajar, fitur ini memiliki konsekwensi khusus bagi kepemimpinan dan pelatihan kepemimpinan. Sekolah bergantung pada kepemimpinan edukatif (Duignan dan Macpherson, 1992) dan tanggung jawab kepala sekolah adalah untuk menghasilkan dan memastikan agar etos di sekolah dilibatkan di dalam dan dimasukkan tidak hanya pada pengajaran akan tetapi juga pada sikap belajar. Pernyataan-pernyataan yang umum ini diikuti oleh persoalan-persoalan tak standar, yang dikemukakan oleh penulis. Dia mengamati dua dimensi dari tanggung jawab kepala sekolah di dalam manajemen mutu: mengelola dan mencapai kemajuan professional berkelanjutan berbasis sekolah, di satu sisi mereka harus memahami bagaimana para professional belajar (belajarnya orang dewasa adalah karakteristik khusus) dan di lain pihak juga memerlukan pertimbangan-pertimbangan kognitif dan etis dalam merencanakan kemajuan professional. Penjelasan dan alasan dibuat berdasarkan praktik pelatihan manajemen penulis dan pengajaran sekolah, serta diperkuat oleh teori. Pernyataan umum lainnya yang berkaitan dengan posisi kunci kepala sekolah di dalam kemajuan organisasi juga dipertanyaakan, sehingga memunculkan aspek mikro politik dan sosial psikologisnya (seperti dinamika kelompok atau manipulasi) dan juga persoalan-persoalan etis seperti ‘kepemilikan’ sekolah. Aspek-aspek tersebut memiliki banyak kesamaan dengan tulisan lain di buku ini, yang membahas aspek-aspek kultural manajemen mutu. Karya Gold mendasari atau menempatkan aspek-aspek tersebut di dalam arah yang baru dan juga memberikan tanggung jawab bagi pembaca untuk mempertimbangkan kembali pandangan mereka mengenai tanggung jawab bagi manajemen mutu dalam pendidikan.

Tulisan-tulisan di dalam volume ini menunjukkan tren umum untuk membahas persoalan mutu melalui pendekatan manajemen. Hal tersebut mengindikasikan relevansi ‘mutu’ bagi penelitian dan kemajuan manajemen pendidikan. Meskipun saat ini persoalan tersebut tampaknya menjadi kebijakan pendidikan yang paling dominan, bisa jadi tidak ada keraguan bahwa persoalan ini memiliki keterkaitan mendalam dengan manajemen pendidikan berorientasi praktik. Hasil-hasilnya tidak hanya memberi pengetahuan tambahan akan tetapi juga kegunaan. Sebagaimana disiplin manajemen pendidikan, persoalan mutu pendidikan juga berasal dari dunia industri. Karena manajemen pendidikan mungkin jauh berbeda dari manajemen industri, membahas mutu- mengelola dan menjaminnya- di dalam pendidikan memerlukan pendekatan dan prosedur yang amat berbeda. Itulah mengapa penting untuk mengumpulkan dan memperlihatkan visi dan wawasan yang berasal dari pengalaman peneliti dan pengembang di bidang tersebut, untuk disalurkan agar memenuhi kebutuhan dari agensi pendidikan yang berbeda. Pengetahuan teoritis dan praktis mengenai manajemen pendidikan juga bisa memainkan peran terhadap penyatuan Eropa. Bagaimana mungkin seseorang memajukan proses integrasi dengan sarana manajemen pendidikan? Bagaimana mungkin seseorang mendorong proses yang sedang berlangsung di dalam pendidikan seluruh Eropa? Pengetahuan apa saja yang diperlukan dan perangkat apa saja yang bisa dikembangkan untuk ‘mengelola pendidikan Eropa’? menurut kami persoalan mutu adalah persoalan yang ditangani secara serius di kebanyakan negara dan juga oleh perserikatan. Persoalan ini dihadapi oleh pemerintahan negara, otoritas lokal, organisasi professional, sekolah, orang tua- oleh semua lapisan masyarakat. Meskipun mutu adalah ‘persoalan biasa’ saat ini, kami yakin bahwa di bawah permukaan persoalan ini merupakan perangkat yang benar-benar bagus untuk mencapai tujuan bersama di dalam budaya yang sama. Kami berharap buku kami memberi kontribusi kepada hal tersebut.

About the author

informasi dunia pendidikan dan budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*